WELCOME

Kamis, 15 Desember 2011

Wajah NII bag. 2


Pada sekitar tahun 1977, Teuku Muhammad Daud Beureuh ditangkap oleh pemerintah kita, karena sebuah aksi yang dilakukan oleh salah seorang anggota NII pada waktu itu dengan meledakkan sebuah granat di acara Musabaqoh (lomba) Tilawatil Qur’an, kemudian juga meledakkan sebuah bom di Rumah Sakit Kristen di Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Atas insiden itulah Teuku Muhammad Daud Beureuh kemudian ditangkap pemerintah kita.


Setelah ditangkapnya Teuku Muhammad Daud Beureuh, tidaklah berarti gerakan Negara Islam Indonesia selesai sampai di situ, karena yang kemudian di angkat menjadi pemimpin yang ke-3 adalah seseorang yang disebut dengan Adah Jaelani. Namun lagi-lagi Adah Jaelani pun tidak lama menjadi pimpinan gerakan Negara Islam Indonesia yang ke-3. Karena pada tahun 1980, ia pun ditangkap dan dipenjara. Lagi-lagi, gara-gara aksi brutal yang dilakukan oleh salah seorang anggotanya dengan melakukan perampokan di beberapa tempat di daerah Jawa Barat. Setalah ditangkapnya Adah Jaelani, maka yang kemudian mengambil alih pimpinan adalah seseorang yang disebut dengan AM atau Ajengan Mashduqi.
            Ketika Ajengan Mashduqi mengambil alih kepemimpinan yang ke-4 dari gerakan Negara Islam Indonesia, maka Adah Jaelani yang tengah dipenjara merasa tidak setuju. Mulailah di situ, terjadi perselisihan intern di tengah-tengah mereka (di tengah-tengah gerakan Negara Islam Indonesia). Sejumlah pengikut setia Adah Jaelani menyatakan keluar dari gerakan Negara Islam Indonesia pimpinan Ajengan Mashduqi, satu di antaranya seseorang yang disebut dengan Abu Karim yang pada waktu itu menjadi pimpinan KW 9, ia menyatakan tidak ikut atau keluar dari NII pimpinan Ajengan Mahsduqi. Setelah peristiwa itu, kembali,  nama gerakan Negara Islam Indonesia seolah memudar, bahkan ada sebagian orang yang mengira kalau gerakan Negara Islan Indonesia selesai atau habis sampai di situ. Apalagi, pada tahun 1992, ‘Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir juga menyatakan untuk keluar dari NII pimpinan Ajengan Mashduqi. Keduanya menyatakan bahwa Ajengan Mashduqi mempunyai ajaran yang menyimpang dari Syari’at Islam. Dan pernyataan itu ternyata berpengaruh besar terhadap eksistensi Pondok Pesantren yang mana mereka berdua termasuk pendirinya, Pondok Pesantren Islam Al-Mu’min Ngruki, Solo.
            Setelah ‘Abdulloh Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir menyatakan diri keluar dari gerakan NII pimpinan Ajengan Mashduqi, kemudian keduanya mengatakan kalau Mashduqi mempunyai ajaran yang sesat (ajaran yang menyimpang dari syariat Islam), maka terjadilah konflik intern di pondok pesantren Islam Al-Mu’min Ngruki.
            Sekitar tahun 1993 atau tahun 1994 kejadian tersebut kemudian menyebabkan beberapa Ustadz favorit santri-santri Al-Mu’min Ngruki keluar. Dan ustadz-ustadz ini mempunyai loyalitas yang cukup tinggi terhadap Abu Bakar Ba’asyir dan ‘Abdullah Sungkar. Ustadz-ustadz yang dimaksud di antaranya adalah Ustadz Abdul Manaf, kemudian Ustadz Jamaluddin, kemudian  Ustadz’Abdurrohman Thoyyib, ketiganya dikenal sebagai Ustadz-Ustadz favorit di pesantren tersebut dan mempunyai loyalitas cukup tinggi terhadap Abu Bakar Ba’asyir dan ‘Abdullah Sungkar. Abu Bakar Ba’asyir sendiri dan ‘Abdullah Sungkar sendiri pada waktu itu sudah ada di Malaysia karena pada tahun 1985 mereka malarikan diri dari incaran pemerintah Indonesia.
 Ikhwana fiddin akromakumulloh, kaum Muslimin yang dimuliakan oleh Alloh Subhanahu wa ta’ala.
            Keluarnya mereka berdua (Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir) dari gerakan Negara Islam Indonesia pimpinan Ajengan Mashduqi, tidaklah menunjukkan bahwa merekapun meninggalkan ideologi pemberontakan atas nama Islam. Ideologi ini masih tetap mereka anut, masih tetap mereka pertahankan dan masih tetap mereka yakini sebagai sebuah kebenaran, bahkan setelah keluar dan menyatakan diri tidak bergabung lagi dengan Negara Islam Indonesia pimpinan Ajengan Mashduqi, mereka berdua semakin menjadi-jadi dengan mengadakan hubungan khusus dengan para “Mujahhiddin” di Afghanistan, sementara pimpinan “Mujahhiddin” yang ada di Afghanistan, notabene mempunyai pemahaman yang kurang baik terhadap Islam. Seperti …….., kemudian ……, kemudian ada lagi, yang disebut dengan Jamaluddin Al…., dan lain sebagainya.
            Ditambah lagi mereka berdua mengkonsumsi (banyak membaca dan belajar) dari buku-bukunya Sayyid Quthb, kemudian juga Said Hawa, Abul A’la Al-Maududi, dan sebagainya.
            Adapun Adah Jaelani pada tahun 1996, ia dilepaskan, ia dikeluarkan oleh pemerintah kita dari penjara. Dan beberapa orang yang ikut dipenjara dari anggota NII pada waktu itu juga ikut dikeluarkan. Lalu mereka bergabung dengan KW 9 yang dipimpin oleh seorang yang bernama Abu Karim. Setelah Adah Jaelani keluar, mereka, Adah pun langsung mengambil alih kepemimpinan, ia memimpin NII KW 9. Lalu setelah itu dia menunjuk seseorang yang dikenal dengan sebutan Panji Gumilang alias Abu Toto. Walaupun penunjukkan ini sempat menimbulkan reaksi perpecahan di tengah-tengah mereka. Karena ada pihak-pihak yang merasa kalau Panji Gumilang atau Abu Toto pada waktu itu tidaklah berhak menjadi pimpinan Negara Islam Indonesia KW 9. Namun demikian, tetap Panji Gumilang/Abu Toto memimpin Negara Islam Indonesia KW 9. Negara Islam Indonesia KW 9 pimpinan Abu Toto atau Panji Gumilang dikatakan cukup berhasil dalam menggalang dana, mendapatkan dana yang sangat besar, kemudian juga dikatakan berhasil dalam merekrut masa. Hingga dalam waktu yang relatif singkat mereka dapat mendirikan sebuah Pesantren yang dikenal dengan sebutan Al-Zaitun di Indramayu. Konon, pesantren tersebut terbesar di Asia Tenggara.
            Namun langkah-langkah yang di ambil oleh Panji Gumilang sebagai pimpinan Negara Islam Indonesia ini mendapatkan pengingkaran yang keras baik dari NII-nya Ajengan Mashduqi ataupun dari kelompoknya Abu Bakar Ba’asyir dan ‘Abdullah Sungkar. Dianggapnya Abu Toto (Panji Gumilang) telah menyimpang dari jalur perjuangan yang telah digariskan oleh Kartosuwiryo. Jadi Negara Islam Indonesia (NII) KW 9 itu sudah ditinggalkan oleh NII  yang lainnya. Seolah mereka sekarang berdiri sendiri, tidak ada sangkut paut dengan NII yang lainnya.
            Sementara kelompok Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar, juga mendapatkan banyak pengikut. Mereka di Malaysia berhasil mendirikan sebuah Pondok Pesanten yang dikenal dengan sebutan Luqmanul Hakim. Hingga pondok pesantren ini dikenal sebagai tempat transit bagi para anggota NII yang akan berangkat “Jihad” ke Afghanistan. Satu nama yang kita kenal atau pernah kita dengar, yaitu Imam Samudra, berangkat lewat Malaysia. Mereka mendapatkan banyak pengikut, dan masyarakat lebih mengenal kalau kelompok Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar ini disebut dengan Jama’ah Islamiyyah atau disingkat JI.
Ikhwana fiddin akromakumulloh, kaum Muslimin yang dimuliakan oleh Alloh Subhanahu wa ta’ala.
            Sebetulnya, kalau membahas tentang kondisi mereka, maka mungkin tidak akan selesai-selesai, karena banyak pecahan-pecahannya. Kalau kita singkat saja, setidaknya ada 3 golongan besar, ada 3 kelompok besar. Pertama, kelompok Negara Islam Indonesia (NII) pimpinan Ajengan Mashduqi yang cenderung memudar, cenderung tidak kelihatan. Kemudian yang kedua, Negara Islam Indonesia (NII) kelompoknya Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar yang justru lebih dikenal dengan sebutan Jama’ah Islamiyyah (JI). Dan yang ketiga, adalah Negara Islam Indonesia (NII) KW 9, Panji Gumilang alias Abu Toto.

0 komentar:

Posting Komentar