Pada sekitar tahun 1977, Teuku Muhammad Daud Beureuh ditangkap
oleh pemerintah kita, karena sebuah aksi yang dilakukan oleh salah seorang
anggota NII pada waktu itu dengan meledakkan sebuah granat di acara Musabaqoh (lomba)
Tilawatil Qur’an, kemudian juga meledakkan sebuah bom di Rumah Sakit Kristen di
Bukit Tinggi, Sumatra Barat. Atas insiden itulah Teuku Muhammad Daud Beureuh kemudian
ditangkap pemerintah kita.
Setelah ditangkapnya Teuku Muhammad Daud Beureuh,
tidaklah berarti gerakan Negara Islam Indonesia selesai sampai di situ, karena
yang kemudian di angkat menjadi pemimpin yang ke-3 adalah seseorang yang
disebut dengan Adah Jaelani. Namun lagi-lagi Adah Jaelani pun tidak
lama menjadi pimpinan gerakan Negara Islam Indonesia yang ke-3. Karena pada
tahun 1980, ia pun ditangkap dan dipenjara. Lagi-lagi, gara-gara aksi brutal
yang dilakukan oleh salah seorang anggotanya dengan melakukan perampokan di
beberapa tempat di daerah Jawa Barat. Setalah ditangkapnya Adah Jaelani, maka
yang kemudian mengambil alih pimpinan adalah seseorang yang disebut dengan AM
atau Ajengan
Mashduqi.
Ketika Ajengan
Mashduqi mengambil alih kepemimpinan yang ke-4 dari gerakan Negara
Islam Indonesia, maka Adah Jaelani yang tengah dipenjara
merasa tidak setuju. Mulailah di situ, terjadi perselisihan intern di
tengah-tengah mereka (di tengah-tengah gerakan Negara Islam Indonesia).
Sejumlah pengikut setia Adah Jaelani menyatakan keluar dari
gerakan Negara Islam Indonesia pimpinan Ajengan Mashduqi, satu di antaranya
seseorang yang disebut dengan Abu Karim yang pada waktu itu
menjadi pimpinan KW 9, ia menyatakan tidak ikut atau keluar dari NII pimpinan Ajengan
Mahsduqi. Setelah peristiwa itu, kembali, nama gerakan Negara Islam Indonesia seolah
memudar, bahkan ada sebagian orang yang mengira kalau gerakan Negara Islan
Indonesia selesai atau habis sampai di situ. Apalagi, pada tahun 1992, ‘Abdullah
Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir juga menyatakan untuk keluar dari NII
pimpinan Ajengan Mashduqi. Keduanya menyatakan bahwa Ajengan
Mashduqi mempunyai ajaran yang menyimpang dari Syari’at Islam. Dan
pernyataan itu ternyata berpengaruh besar terhadap eksistensi Pondok Pesantren
yang mana mereka berdua termasuk pendirinya, Pondok Pesantren Islam Al-Mu’min
Ngruki, Solo.
Setelah ‘Abdulloh
Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir menyatakan diri keluar dari gerakan NII
pimpinan Ajengan Mashduqi, kemudian keduanya mengatakan kalau Mashduqi
mempunyai ajaran yang sesat (ajaran yang menyimpang dari syariat Islam), maka
terjadilah konflik intern di pondok pesantren Islam Al-Mu’min Ngruki.
Sekitar
tahun 1993 atau tahun 1994 kejadian tersebut kemudian menyebabkan beberapa
Ustadz favorit santri-santri Al-Mu’min Ngruki keluar. Dan ustadz-ustadz ini
mempunyai loyalitas yang cukup tinggi terhadap Abu Bakar Ba’asyir dan ‘Abdullah
Sungkar. Ustadz-ustadz yang dimaksud di antaranya adalah Ustadz
Abdul Manaf, kemudian Ustadz Jamaluddin, kemudian Ustadz’Abdurrohman Thoyyib, ketiganya
dikenal sebagai Ustadz-Ustadz favorit di pesantren tersebut dan mempunyai
loyalitas cukup tinggi terhadap Abu Bakar Ba’asyir dan ‘Abdullah
Sungkar. Abu Bakar Ba’asyir sendiri dan ‘Abdullah Sungkar sendiri
pada waktu itu sudah ada di Malaysia karena pada tahun 1985 mereka malarikan
diri dari incaran pemerintah Indonesia.
Ikhwana fiddin akromakumulloh,
kaum Muslimin yang dimuliakan oleh Alloh Subhanahu wa ta’ala.
Keluarnya
mereka berdua (Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir) dari gerakan
Negara Islam Indonesia pimpinan Ajengan Mashduqi, tidaklah
menunjukkan bahwa merekapun meninggalkan ideologi pemberontakan atas nama
Islam. Ideologi ini masih tetap mereka anut, masih tetap mereka pertahankan dan
masih tetap mereka yakini sebagai sebuah kebenaran, bahkan setelah keluar dan
menyatakan diri tidak bergabung lagi dengan Negara Islam Indonesia pimpinan Ajengan
Mashduqi, mereka berdua semakin menjadi-jadi dengan mengadakan hubungan
khusus dengan para “Mujahhiddin” di Afghanistan, sementara pimpinan “Mujahhiddin”
yang ada di Afghanistan, notabene mempunyai pemahaman yang kurang baik terhadap
Islam. Seperti …….., kemudian ……, kemudian ada lagi, yang disebut dengan
Jamaluddin Al…., dan lain sebagainya.
Ditambah
lagi mereka berdua mengkonsumsi (banyak membaca dan belajar) dari buku-bukunya Sayyid
Quthb, kemudian juga Said Hawa, Abul A’la Al-Maududi,
dan sebagainya.
Adapun Adah
Jaelani pada tahun 1996, ia dilepaskan, ia dikeluarkan oleh pemerintah
kita dari penjara. Dan beberapa orang yang ikut dipenjara dari anggota NII pada
waktu itu juga ikut dikeluarkan. Lalu mereka bergabung dengan KW 9 yang
dipimpin oleh seorang yang bernama Abu Karim. Setelah Adah
Jaelani keluar, mereka, Adah pun langsung mengambil alih kepemimpinan,
ia memimpin NII KW 9. Lalu setelah itu dia menunjuk seseorang yang dikenal
dengan sebutan Panji Gumilang alias Abu Toto. Walaupun penunjukkan ini sempat
menimbulkan reaksi perpecahan di tengah-tengah mereka. Karena ada pihak-pihak
yang merasa kalau Panji Gumilang atau Abu Toto pada waktu itu tidaklah berhak
menjadi pimpinan Negara Islam Indonesia KW 9. Namun demikian, tetap Panji
Gumilang/Abu Toto memimpin Negara Islam Indonesia KW 9. Negara Islam
Indonesia KW 9 pimpinan Abu Toto atau Panji Gumilang
dikatakan cukup berhasil dalam menggalang dana, mendapatkan dana yang sangat
besar, kemudian juga dikatakan berhasil dalam merekrut masa. Hingga dalam waktu
yang relatif singkat mereka dapat mendirikan sebuah Pesantren yang dikenal
dengan sebutan Al-Zaitun di Indramayu. Konon, pesantren tersebut terbesar di
Asia Tenggara.
Namun
langkah-langkah yang di ambil oleh Panji Gumilang sebagai pimpinan Negara Islam
Indonesia ini mendapatkan pengingkaran yang keras baik dari NII-nya Ajengan
Mashduqi ataupun dari kelompoknya Abu Bakar Ba’asyir dan ‘Abdullah
Sungkar. Dianggapnya Abu Toto (Panji Gumilang) telah
menyimpang dari jalur perjuangan yang telah digariskan oleh Kartosuwiryo.
Jadi Negara Islam Indonesia (NII) KW 9 itu sudah ditinggalkan oleh NII yang lainnya. Seolah mereka sekarang berdiri
sendiri, tidak ada sangkut paut dengan NII yang lainnya.
Sementara
kelompok Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar, juga mendapatkan
banyak pengikut. Mereka di Malaysia berhasil mendirikan sebuah Pondok
Pesanten yang dikenal dengan sebutan Luqmanul Hakim. Hingga
pondok pesantren ini dikenal sebagai tempat transit bagi para anggota NII yang
akan berangkat “Jihad” ke Afghanistan. Satu nama yang kita kenal atau pernah
kita dengar, yaitu Imam Samudra, berangkat lewat Malaysia. Mereka mendapatkan
banyak pengikut, dan masyarakat lebih mengenal kalau kelompok Abu
Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar ini disebut dengan Jama’ah
Islamiyyah atau disingkat JI.
Ikhwana fiddin akromakumulloh, kaum Muslimin yang dimuliakan oleh Alloh
Subhanahu wa ta’ala.
Sebetulnya,
kalau membahas tentang kondisi mereka, maka mungkin tidak akan selesai-selesai,
karena banyak pecahan-pecahannya. Kalau kita singkat saja, setidaknya ada 3 golongan besar,
ada 3 kelompok besar. Pertama, kelompok Negara
Islam Indonesia (NII) pimpinan Ajengan Mashduqi yang cenderung memudar,
cenderung tidak kelihatan. Kemudian yang kedua, Negara Islam Indonesia (NII)
kelompoknya Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar yang justru lebih dikenal
dengan sebutan Jama’ah Islamiyyah (JI). Dan yang ketiga, adalah Negara Islam
Indonesia (NII) KW 9, Panji Gumilang alias Abu Toto.
0 komentar:
Posting Komentar