Namun yang
paling penting untuk kita ingat di sini adalah bahwa pemahaman atau ideologi
pemberontakan atasnama Islam ini masih mengakar kuat dan aksi-aksi kekerasan,
aksi-aksi teror seperti pencurian atau perampokan, atau bahkan peledakan yang
terjadi di sejumlah tempat, ini menjadi
bukti kuat kalau pemahaman itu masih tetap ada dan masih dianut. Kita
tidak mempersoalkan atau tidak memperdulikan apakah aksi kekerasan itu
dilakukan oleh kelompoknya Ajengan Mashduqi atau dilakukan oleh
kelompoknya Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar ataupun juga
dilakukan oleh NII KW 9. Yang paling kita garis bawahi adalah bahwa pemikiran,
pemahaman, ideologi pemberontakan terhadap penguasa/terhadap pemerintah yang
sah ini masih mengakar kuat. Dan selama pemahaman ini ada, selama pemahaman
atau ideologi ini dibiarkan, maka selama itu pula akan terus bermunculan
kelompok-kelompok yang sama.
Ikhwana fiddin akromakumulloh, kaum Muslimin yang dimuliakan oleh Alloh
Subhanahu wa ta’ala.
Mengapa
mereka, orang-orang yang berafiliasi kepada pemahaman atau ideologi khowarij
(dalam hal ini NII), melakukan pemberontakan terhadap pemerintah??? Ini penting
untuk kta ketahui.
Alasan
yang pertama adalah kejahatan, kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah.
Di antaranya adalah bahwa pemerintah-pemerintah telah semena-mena menggunakan
fasilitas Negara. Karena pemandangan
yang seperti itu kemudian timbul kecemburuan yang besar, timbul
kemarahan, timbul emosi, “pemerintah tidak adil, pemerintah tidak memberikan
perhatian terhadap rakyatnya.” Dan mereka tidak sabar dalam menghadapi
kenyataan ini. Padahal, sebetulnya, Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam sudah
mmberitahukan kepada kita semua bahwa kita akan menghadapi kenyataan di mana
sebagian dari pemerintah kita ada yang melakukan perbuatan yang tidak terpuji.
Seperti menggunakan fasilitas Negara dengan seenaknya, atau tindakan-tindakan
yang lain yang cenderung mengarah kepada sikap tidak ada keadilan. Di dalam
hadits riwayat Al-Imam Al-Bukhory dan i,
dari shohabat Usaid bin …. Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya
kalian akan menjumpai sepeninggalku pemimpin-pemimpin yang melakukan tindakan
semena-mena dalam hal harta benda, maka kewajiban kalian adalah bersabar
(bersabarah kalian), sampai kalian bejumpa dengan aku di Haudh (telaga).”
Al-Hafizh
Ibnu Hajar Al-Asqolany rohimahulloh berkenaan dengan hadits ini
mengatakan, “(Bahwa) Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kalau kondisi
pemimpin yang seperti itu di zamannya tidak terjadi, namun kondisi para
pemimpin yang seperti itu akan terjadi setelah beliau tidak ada. Kemudian Nabi
shollallohu ‘alaihi wa sallam memberikan solusi, memberikan jalan keluar yaitu
bersabar ketika memang benar-benar terjadi.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahulloh mengatakan, “
Dalam hadits tadi terdapat dalil tentang kebeneran Nubuwwah beliau, karena
beliau telah mengabarkan sesuatu yang benar-benar terjadi , di mana para
khulafa’/para ‘Umara (para pemimpin Negara/pemerintah) sejak zaman dulu, mereka
melakukan tindakan-tindakan semena-mena dalam hal harta benda, (seenaknya dalam
menggunakan fasilitas milik Negara, melakukan tindakan eksploitasi dalam hal
harta benda).” Kemudian kata Asy-Syaikh Muhammad Bin Sholih Al-‘Utsaimin
rohimahulloh mengatakan, “ Kita dapati, di antara mereka ada yang
ketika makan, maka selalu memilih makanan-makanan yang paling mahal, ada di
antara mereka kalau minum maka akan memilih minuman-minuman yang istimewa (yang
paling mahal), ada di antara mereka yang kalau berpakaian maka mereka akan
memilih pakaian-pakaian yang wah, pakaian-pakaian yang lux, pakaian-pakaian
yang indah, pakaian-pakaian yang harganya sangat mahal. Ada di antara mereka
(para pemimpin/pemerintah/aparatur Negara) yang kalau mengendarai sebuah
kendaraan, maka akan memilih kendaraan yang mewah (kendaraan yang mahal,
kendaraan yang paling bagus). Bahkan ada di antara mereka yang kalau mempunyai
rumah atau menghuni rumah, maka tidak mau kecuali menghuni rumah yang mewah,
rumah yang megah.” Ini kenyataan sudah terjadi, bukan saja sekarang,
tapi sebelumnya, sejak zaman dulu. Kata Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahulloh.
Dan ini sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa
sallam kepad kita. Dan kita harus siap menghadapi kenyataan yang seperti ini.
Yang harus dikedepankan bukan emosi, bukan perasaan, bukan kekesalan, tetapi
melihat, merenungi, membaca bagaimana aturan dan nashihat Nabi shollallohu
‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin
rohimahulloh mengatakan, “Ini semua tidak berarti kita harus
melepaskan keta’atan terhadap mereka (terhadap pemerintah/terhadap para
aparatur Negara) atau tidak berarti kita boleh menggulingkan mereka, memberontak
kepada mereka, tetapi yang wajib adalah kita meminta hak kita kepada Alloh dan
tetap menunaikan kewajiban kita sebagai rakyat.”
Kalau seandainya pemerintah tidak memberikan hak kita tidak
menunaikan hak untuk kita, maka mintalah hak itu kepada Alloh.
Ikhwana fiddin akromakumulloh, kaum Muslimin yang dimuliakan oleh Alloh
Subhanahu wa ta’ala.
Nabi
memerintahkan kita untuk tetap mendengar tetap ta’at kepada pemerintah yang
melakukan kejahatan, semena-mena dalam menggunakan fasilitas Negara. Di dalam
hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rohimahulloh dari
shohabat Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, Nabi shollalohu ‘alaihi wa
sallam bersabda , “Hendaknya engkau tetap mendengar dan ta’at, dalam keadaan susah maupun
mudah. (Dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan pemerintah
melekukan tindakan semena-mena. Tetap mendengar dan ta’at).”
Kata Imam An-Nawawy rohimahullahu ta’ala,
“Tetaplah
kalian mendengar, tetaplah kalian taati pemerintah, walaupun pemerintah itu
cenderung mementingkan diri mereka dalam urusan dunia dan tidak menunaikan hak
kalian.” Tetap mendengar dan tetap taat. Dengan demikian tidak ada lagi
alasan untuk bolehnya melakukan pemberotantakan terhadap pemerintah yang
kondisinya seperti disebutkan tadi, berlaku sewenang-wenang/ semena-mena
terhadap harta benda, tidak menegakkan keadilan.
Kemudian diantara hal yang dianggap termasuk kejahatan
pemerintah selain bertindak semena-mena dalam harta benda adalah karena
pemerintah (para aparatur Negara) umumnya melakukan tindakan kemaksiatan melakukan
tindakan kafasikan dan kedzaliman. (kemaksiatan, kefasikan, dan kedzaliman). Satu
hal yang menjadi ciri khas dari aliran khawarij sejak awal kemunculannya ialah
mereka selalu mendamba-dambakan munculnya seorang pemimpin Negara yang bersih
tidak pernah dosa sama sekali. Dan apa yang mereka cita-citakan itu
hanyalah omong kosong. Tidak akan pernah terbukti tidak akan pernah ada
pemimpin Negara yang betul-betul bersih, tidak pernah melakukan kesalahan,
tidak pernah melakukan dosa. Maka ketika menjumpai ada di antara jajaran
pemerintah atau aparatur Negara yang melakukan kemaksitan, melakukan kefasikan, melakukan tindakan
kedzaliman, mereka menganggap ini satu alasan yang dibolehkan untuk melakukan
pemberontakan terhadap mereka. Padahal, Nabi telah mengabarkan kepada kita
semua tentang tidak bolehnya melakukan pemberontakan kepada pemerintah yang
fasik, pemerintah yang dzalim. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al Bukhari dan Al
Imam Muslim dari sahabat Ibnu Abbas, “Siapa yang melihat dari
pemerintahnya sesuatu yang tidak disukainya (sesuatu yang tidak disenanginya)
maka hendaknya dia bersabar. Karena siapa saja yang melepaskan diri dari
kesatuan dan persatuan walau sejengkal kemudian mati, dia mati dalam keadaan
mati jahiliyyah.”
Imam An Nawawy mengatakan, “Hendaknya bersabar menghadapi kedzaliman
pemerintah dan kedzaliman yang dilakukan oleh pemerintah tidaklah menyebabkan
putusnya ketaatan terhadap mereka.”
Syaikh Ibnu Utsaimin juga mengatakan hal yang sama, kata beliau, “Sikap
kita dalam menghadapi seorang pemimipin atau pemerintah yang tidak adil atau
tidak melakukan keadialan ialah bersabar. Bersabar atas kedzalimannya, bersabar
atas kejahatannya, dan bersabar atas tindakan semena-menanya.” Bersabar!
Ini yang diajarkan oleh Nabi.
Kalau kemudian ditanyakan sampai kapan kita bersabar?
Jawabannya, sampai Allah memberikan kelapangan bagi kita semua. Dan kondisi
yang seperti ini seharusnya menjadi renungan bersama. Boleh jadi kita dipimpin
oleh pemerintah yang jahat, kita dipimpin oleh pemerintah yang tidak adil ini
lantaran kesalahan, kekeliruan, dosa, dan pelanggaran yang kita lakukan
terhadap Allah. Kita harus berpikir sampai kesana. Boleh jadi ini adzab dari
Allah. Karena umumnya kita selalu menuntut hak dan melupakan kewajiban. Kalau
kita rakyat pada umumnya baik (sholih semua) keimanannya sempurna, keimanannya
baik, niscaya pimpinan yang ada di tengah-tengah mereka akan seperti itu
kondisinya. Kenapa? Karena pimpinan itu berasal dari rakyat tersebut.
Sebaliknya kalau kondisi rakyatnya bejat, kondisi rakyatnya rusak, banyak
melakukan pelanggaran, banyak melakukan dosa dan kesalahan terhadap Allah, maka
pemimpin yang ada di tengah-tengah mereka tidak jauh keadaannya, bahkan seperti
itu. Kenapa? Karena pemimpin tersebut berasal dari rakyat yang kondisinya seperti
itu.
Pernah ada beberapa orang yang membawa pemikiran khawarij.
Orang-orang yang beraliran khawarij datang menghadap kepada khalifah Ali
bin Abi Thalib mereka mengkritisi pemimpinan Ali bin Abi Thalib.
Mereka mengatakan, “Dulu sejak kami dipimpin oleh sahabat Abu Bakar dan dipimpin oleh
sahabat Umar tidak pernah terjadi kekacauan, tidak pernah terjadi
ketidakadilan, tidak pernah terjadi seperti ini.” Kata sahabat Ali
bin Abi Thalib, “Memang iya, itu kenapa? Karena rakyat yang dipimpin oleh Abu
Bakar dan Umar adalah aku dan orang-orang yang seperti aku. “ kata
sahabat Ali bin Abi Thalib. “Tapi sekarang rakyat yang aku pimpin adalah
kamu dan orang-orang yang seperti kamu.“ Mereka tidak bisa bicara lagi,
akhirnya keluar. Dan sahabat Ali bin Abi Thalib memberantas
mereka, memerangi mereka. Walaupun kemudian sahabat Ali bin Abi Thalib terbunuh
di tangan mereka, pada tahun 40 H, tanggal 17 Ramadhan hari jum’at pagi-pagi
dibunuh oleh mereka.
Ikhwana fiddin akromakumulloh, kaum Muslimin yang dimuliakan oleh Alloh
Subhanahu wa ta’ala.
Jadi sekali lagi, kejahatan yang dilakukan oleh penguasa
tidaklah berarti syariat membolehkan untuk melakukan pemberontakan terhadap
mereka. Justru Nabi lebih mengarahkan kepada kita semua untuk bersikap sabar
dan ambil pelajaran, ambil hikmahnya kenapa terjadi hal yang seperti ini.
0 komentar:
Posting Komentar