WELCOME

Kamis, 15 Desember 2011

Wajah NII bag. 3


            Namun yang paling penting untuk kita ingat di sini adalah bahwa pemahaman atau ideologi pemberontakan atasnama Islam ini masih mengakar kuat dan aksi-aksi kekerasan, aksi-aksi teror seperti pencurian atau perampokan, atau bahkan peledakan yang terjadi di sejumlah tempat, ini menjadi  bukti kuat kalau pemahaman itu masih tetap ada dan masih dianut. Kita tidak mempersoalkan atau tidak memperdulikan apakah aksi kekerasan itu dilakukan oleh kelompoknya Ajengan Mashduqi atau dilakukan oleh kelompoknya Abu Bakar Ba’asyir dan Abdullah Sungkar ataupun juga dilakukan oleh NII KW 9. Yang paling kita garis bawahi adalah bahwa pemikiran, pemahaman, ideologi pemberontakan terhadap penguasa/terhadap pemerintah yang sah ini masih mengakar kuat. Dan selama pemahaman ini ada, selama pemahaman atau ideologi ini dibiarkan, maka selama itu pula akan terus bermunculan kelompok-kelompok yang sama.


Ikhwana fiddin akromakumulloh, kaum Muslimin yang dimuliakan oleh Alloh Subhanahu wa ta’ala.
            Mengapa mereka, orang-orang yang berafiliasi kepada pemahaman atau ideologi khowarij (dalam hal ini NII), melakukan pemberontakan terhadap pemerintah??? Ini penting untuk kta ketahui.
            Alasan yang pertama adalah kejahatan, kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah. Di antaranya adalah bahwa pemerintah-pemerintah telah semena-mena menggunakan fasilitas Negara. Karena pemandangan  yang seperti itu kemudian timbul kecemburuan yang besar, timbul kemarahan, timbul emosi, “pemerintah tidak adil, pemerintah tidak memberikan perhatian terhadap rakyatnya.” Dan mereka tidak sabar dalam menghadapi kenyataan ini. Padahal, sebetulnya, Nabi Shollallohu ‘alaihi wa sallam sudah mmberitahukan kepada kita semua bahwa kita akan menghadapi kenyataan di mana sebagian dari pemerintah kita ada yang melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Seperti menggunakan fasilitas Negara dengan seenaknya, atau tindakan-tindakan yang lain yang cenderung mengarah kepada sikap tidak ada keadilan. Di dalam hadits riwayat Al-Imam Al-Bukhory dan i, dari shohabat Usaid bin …. Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kalian akan menjumpai sepeninggalku pemimpin-pemimpin yang melakukan tindakan semena-mena dalam hal harta benda, maka kewajiban kalian adalah bersabar (bersabarah kalian), sampai kalian bejumpa dengan aku di Haudh (telaga).” Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolany rohimahulloh berkenaan dengan hadits ini mengatakan, “(Bahwa) Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kalau kondisi pemimpin yang seperti itu di zamannya tidak terjadi, namun kondisi para pemimpin yang seperti itu akan terjadi setelah beliau tidak ada. Kemudian Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam memberikan solusi, memberikan jalan keluar yaitu bersabar ketika memang benar-benar terjadi.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahulloh mengatakan, “ Dalam hadits tadi terdapat dalil tentang kebeneran Nubuwwah beliau, karena beliau telah mengabarkan sesuatu yang benar-benar terjadi , di mana para khulafa’/para ‘Umara (para pemimpin Negara/pemerintah) sejak zaman dulu, mereka melakukan tindakan-tindakan semena-mena dalam hal harta benda, (seenaknya dalam menggunakan fasilitas milik Negara, melakukan tindakan eksploitasi dalam hal harta benda).” Kemudian kata Asy-Syaikh Muhammad Bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahulloh mengatakan, “ Kita dapati, di antara mereka ada yang ketika makan, maka selalu memilih makanan-makanan yang paling mahal, ada di antara mereka kalau minum maka akan memilih minuman-minuman yang istimewa (yang paling mahal), ada di antara mereka yang kalau berpakaian maka mereka akan memilih pakaian-pakaian yang wah, pakaian-pakaian yang lux, pakaian-pakaian yang indah, pakaian-pakaian yang harganya sangat mahal. Ada di antara mereka (para pemimpin/pemerintah/aparatur Negara) yang kalau mengendarai sebuah kendaraan, maka akan memilih kendaraan yang mewah (kendaraan yang mahal, kendaraan yang paling bagus). Bahkan ada di antara mereka yang kalau mempunyai rumah atau menghuni rumah, maka tidak mau kecuali menghuni rumah yang mewah, rumah yang megah.” Ini kenyataan sudah terjadi, bukan saja sekarang, tapi sebelumnya, sejak zaman dulu. Kata Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahulloh. Dan ini sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam kepad kita. Dan kita harus siap menghadapi kenyataan yang seperti ini. Yang harus dikedepankan bukan emosi, bukan perasaan, bukan kekesalan, tetapi melihat, merenungi, membaca bagaimana aturan dan nashihat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, Asy-Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rohimahulloh mengatakan, “Ini semua tidak berarti kita harus melepaskan keta’atan terhadap mereka (terhadap pemerintah/terhadap para aparatur Negara) atau tidak berarti kita boleh menggulingkan mereka, memberontak kepada mereka, tetapi yang wajib adalah kita meminta hak kita kepada Alloh dan tetap menunaikan kewajiban kita sebagai rakyat.”
Kalau seandainya pemerintah tidak memberikan hak kita tidak menunaikan hak untuk kita, maka mintalah hak itu kepada Alloh.
Ikhwana fiddin akromakumulloh, kaum Muslimin yang dimuliakan oleh Alloh Subhanahu wa ta’ala.
            Nabi memerintahkan kita untuk tetap mendengar tetap ta’at kepada pemerintah yang melakukan kejahatan, semena-mena dalam menggunakan fasilitas Negara. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rohimahulloh dari shohabat Abu Huroiroh rodhiyallohu ‘anhu, Nabi shollalohu ‘alaihi wa sallam bersabda , “Hendaknya engkau tetap mendengar dan ta’at, dalam keadaan susah maupun mudah. (Dalam keadaan suka maupun duka, dalam keadaan pemerintah melekukan tindakan semena-mena. Tetap mendengar dan ta’at).”
Kata Imam An-Nawawy rohimahullahu ta’ala, “Tetaplah kalian mendengar, tetaplah kalian taati pemerintah, walaupun pemerintah itu cenderung mementingkan diri mereka dalam urusan dunia dan tidak menunaikan hak kalian.” Tetap mendengar dan tetap taat. Dengan demikian tidak ada lagi alasan untuk bolehnya melakukan pemberotantakan terhadap pemerintah yang kondisinya seperti disebutkan tadi, berlaku sewenang-wenang/ semena-mena terhadap harta benda, tidak menegakkan keadilan.
Kemudian diantara hal yang dianggap termasuk kejahatan pemerintah selain bertindak semena-mena dalam harta benda adalah karena pemerintah (para aparatur Negara) umumnya melakukan tindakan kemaksiatan melakukan tindakan kafasikan dan kedzaliman. (kemaksiatan, kefasikan, dan kedzaliman). Satu hal yang menjadi ciri khas dari aliran khawarij sejak awal kemunculannya ialah mereka selalu mendamba-dambakan munculnya seorang pemimpin Negara yang bersih tidak pernah dosa sama sekali. Dan apa yang mereka cita-citakan itu hanyalah omong kosong. Tidak akan pernah terbukti tidak akan pernah ada pemimpin Negara yang betul-betul bersih, tidak pernah melakukan kesalahan, tidak pernah melakukan dosa. Maka ketika menjumpai ada di antara jajaran pemerintah atau aparatur Negara yang melakukan kemaksitan,  melakukan kefasikan, melakukan tindakan kedzaliman, mereka menganggap ini satu alasan yang dibolehkan untuk melakukan pemberontakan terhadap mereka. Padahal, Nabi telah mengabarkan kepada kita semua tentang tidak bolehnya melakukan pemberontakan kepada pemerintah yang fasik, pemerintah yang dzalim. Diriwayatkan oleh Al-Imam Al Bukhari dan Al Imam Muslim dari sahabat Ibnu Abbas, “Siapa yang melihat dari pemerintahnya sesuatu yang tidak disukainya (sesuatu yang tidak disenanginya) maka hendaknya dia bersabar. Karena siapa saja yang melepaskan diri dari kesatuan dan persatuan walau sejengkal kemudian mati, dia mati dalam keadaan mati jahiliyyah.”
Imam An Nawawy mengatakan, “Hendaknya bersabar menghadapi kedzaliman pemerintah dan kedzaliman yang dilakukan oleh pemerintah tidaklah menyebabkan putusnya ketaatan terhadap mereka.”
Syaikh Ibnu Utsaimin juga mengatakan hal yang sama, kata beliau, “Sikap kita dalam menghadapi seorang pemimipin atau pemerintah yang tidak adil atau tidak melakukan keadialan ialah bersabar. Bersabar atas kedzalimannya, bersabar atas kejahatannya, dan bersabar atas tindakan semena-menanya.” Bersabar! Ini yang diajarkan oleh Nabi.
Kalau kemudian ditanyakan sampai kapan kita bersabar? Jawabannya, sampai Allah memberikan kelapangan bagi kita semua. Dan kondisi yang seperti ini seharusnya menjadi renungan bersama. Boleh jadi kita dipimpin oleh pemerintah yang jahat, kita dipimpin oleh pemerintah yang tidak adil ini lantaran kesalahan, kekeliruan, dosa, dan pelanggaran yang kita lakukan terhadap Allah. Kita harus berpikir sampai kesana. Boleh jadi ini adzab dari Allah. Karena umumnya kita selalu menuntut hak dan melupakan kewajiban. Kalau kita rakyat pada umumnya baik (sholih semua) keimanannya sempurna, keimanannya baik, niscaya pimpinan yang ada di tengah-tengah mereka akan seperti itu kondisinya. Kenapa? Karena pimpinan itu berasal dari rakyat tersebut. Sebaliknya kalau kondisi rakyatnya bejat, kondisi rakyatnya rusak, banyak melakukan pelanggaran, banyak melakukan dosa dan kesalahan terhadap Allah, maka pemimpin yang ada di tengah-tengah mereka tidak jauh keadaannya, bahkan seperti itu. Kenapa? Karena pemimpin tersebut berasal dari rakyat yang kondisinya seperti itu.
Pernah ada beberapa orang yang membawa pemikiran khawarij. Orang-orang yang beraliran khawarij datang menghadap kepada khalifah Ali bin Abi Thalib mereka mengkritisi pemimpinan Ali bin Abi Thalib. Mereka mengatakan, “Dulu sejak kami dipimpin oleh sahabat Abu Bakar dan dipimpin oleh sahabat Umar tidak pernah terjadi kekacauan, tidak pernah terjadi ketidakadilan, tidak pernah terjadi seperti ini.” Kata sahabat Ali bin Abi Thalib, “Memang iya, itu kenapa? Karena rakyat yang dipimpin oleh Abu Bakar dan Umar adalah aku dan orang-orang yang seperti aku. “ kata sahabat Ali bin Abi Thalib. “Tapi sekarang rakyat yang aku pimpin adalah kamu dan orang-orang yang seperti kamu.“ Mereka tidak bisa bicara lagi, akhirnya keluar. Dan sahabat Ali bin Abi Thalib memberantas mereka, memerangi mereka. Walaupun kemudian sahabat Ali bin Abi Thalib terbunuh di tangan mereka, pada tahun 40 H, tanggal 17 Ramadhan hari jum’at pagi-pagi dibunuh oleh mereka.
Ikhwana fiddin akromakumulloh, kaum Muslimin yang dimuliakan oleh Alloh Subhanahu wa ta’ala.
Jadi sekali lagi, kejahatan yang dilakukan oleh penguasa tidaklah berarti syariat membolehkan untuk melakukan pemberontakan terhadap mereka. Justru Nabi lebih mengarahkan kepada kita semua untuk bersikap sabar dan ambil pelajaran, ambil hikmahnya kenapa terjadi hal yang seperti ini.

0 komentar:

Posting Komentar